Minggu, 12 Agustus 2012

Kemaksiatan Para Penuntut Ilmu

Asy Syaikh Abdussalam Barjas Al Abdil Karim rohimahulloh berkata :

“Semua maksiat jelek, akan tetapi maksiat terjelek yang seringkali tersamar oleh penuntut ilmu adalah takabbur, sombong, merasa besar, tertipu dengan dirinya sendiri sehingga dia memandang rendah serta merasa tinggi dari orang lain.

Dia pun berjalan dengan gaya yang congkak, banyak bicara serta tak lepas dari sifat besar diri dan semisalnya.”

Alloh telah melarang sikap sombong,
ﻭَﻻ ﺗَﻤْﺶِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣَﺮَﺣﺎً ﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳُﺤِﺐُّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺨْﺘَﺎﻝٍ ﻓَﺨُﻮﺭٍ
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
ﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ
ﻣﺜﻘﺎﻝ ﺫﺭﺓ ﻣﻦ ﻛﺒﺮ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” Kemudian seorang berkata: “Seseorang suka bila bajunya bagus, dan sandalnya bagus?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Alloh itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Disebutkan di dalam kitab Tahdzibul Ihya’

“Sombong dengan ilmu itu adalah perusak terbesar dan penyakit yang parah dan paling susah diobati kecuali dengan usaha yang keras serta dan kesungguhan yang maksimal. Hal itu karena kadar ilmu itu besar di sisi Alloh, dan besar pula di sisi manusia, lebih besar daripada kadar harta, kecantikan, dan lainnya.”

Kesombongan yang ada pada diri seorang penuntut ilmu adalah sesuatu yang mematikan yang bisa menghalanginya dari kebenaran.
Ibnul Jauzi berkata,
“Seorang yang merasa cukup dengan ilmunya apabila dicampuri dengan sikap memandang hebat pada dirinya, maka dia akan terhalangi dari kebenaran. Kita berlindung kepada Alloh dari hal itu.”

Dan hendaknya betul-betul kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Asy Syaikh Abdussalam berikut, “Di masa ini kita telah diuji dengan sedikit –dan segala puji bagi Alloh-, mereka membaca satu kitab atau dua kitab, menghapal satu dua masalah, kemudian setelah satu atau dua hari –dari umur mereka dalam menuntut ilmu- mereka menjadi mujtahid.

Sekiranya mereka membatasi diri dengan tipu daya yang kosong ini maka tentu itu lebih baik, akan tetapi mereka menganggap kecil para ulama, membodoh-bodohkan para penuntut ilmu dan para da’i.

Mereka memandang diri mereka telah berada di manzilah yang tinggi yang tidak dicapai seorang pun, tampak itu semua pada pakaian, cara jalan mereka, serta ucapan mereka. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Alangkah berbahaya dan sedikitnya manfaat mereka, dan betapa kokoh kebodohan mereka. Kami memohon kepada Alloh ta’ala untuk memberi hidayah kepada mereka kepada jalan yang lurus.”

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke BLOG saya yang sederhana ini.. Silahkan Isi komentar anda dengan bahasa yang sopan santun... ^_^